Ied Adha


Semalam, sekitar pukul 10, aku terbangun. Terbangun yang disebabkan kumandang gema takbir berkali-kali dengan suara toa yang cukup pekik dan bacaan yang asal-asalan. Maklum, letak kosan pas bersebalahan dengan masjid. Dan si penggema takbir manusia-manusia cilik dengan suara cemprengnya. Alhamdulilllah, berarti Dia masih mengingatkan dikasih posisi kosan bersebelahan dengan masjid dan gelora takbiran adik-adik yang bikin haru.

"Dek, dek, kok belum tidur toh jam segini?" gumamku. 

Jadi ingat pernah nemu artikel yang bahas slogan 'jangan bawa anak ke masjid' karena ganggu, berisik, nggak serius. Iya memang sih, mereka terkadang bikin gaduh, mengganggu kekhusyukan, menyebalkan, nggak bisa diatur. Tapi lagi-lagi harus maklum dengan 'namanya juga anak-anak'. Toh, Rasullulloh saja ndak marah kedua cucuknya(Imam Hasan-Imam Husein) naik di punggung saat beliau sujud, malah menunggu mereka selesai bermain. Malah mereka-mereka ini bisa membuat hati tergugah. 

"Ah, dek, dek, Kok aku sudah pelor tapi kalian masih terjaga menyeru kebahagiaan atas berkahnya malam ini?" gumamku lagi. Jadi malu. 

Iya, ya, biarkan saja anak-anak main di masjid, sekalipun takbirnya belum sempurna, solatnya masih main-main, justru mereka calon-calon Imam masa depan.  

Tapi teteup weh aku molor lagi(anti-klimaks). Kemudian, dengan khilafnya, baru bangun jam tujuh pagi lebih. Untung lagi nggak solat. tapi niat mau mandi hadast subuh-subuh. Nggak kebagian solat Ied(lagi) seperti dua tahun lalu. Tahun lalu pun bersyukur masih kebagian berdua Ninik. Sebel kan, Si Nuha juga ketiduran lagi. Sama-sama pelor nggak ngingetin bangun. Cuma bisa "Astagfirulloh, naon-sih-ih-Nad" 

Jam delapan lebih, Nuha pulang ke Bogor. Mulailah ngerasa sendiri. Udah mah nggak pulang, mandep di kosan sendirian lagi. Jadi dengan ke-lonli-an(baca: kesepian) ini awalnya ragu-ragu mau dateng ke acara makan-makan rektor. Tapi ujung-ujungnya gas juga, setidaknya biar ketemu orang. Mencoba hubungin teman tapi pada bubaran. Yasudahlah, demi semangat makan enak 45, berangkat sendiri tak apa. Sampai sana antri panjangggg. Ngantri dari jam 9 baru bisa masuk jam 11, itupun baru kedapatan makanan jam 12 siang. Karena nasi nya habis, tim protokol baru mesen nasi padang doa mande. Kirain nggak akan lama, mau mundur tapi sayang udah nunggu lama. 


Untung, masih tau apa yang dikerjain sambil berdiri nunggu, nulis-nulis bikin draft sambil berdiri. Meski akhir-akhir udah termenung kelaperan. Mungkin ini ujian biar kamu belajar ikhlas. Makanya, jangan telat bangun, akhirnya telat juga dapat makanannya, heu. 

Nggak ini mah cerita random, Hari Idul Adha yang sungguh dinamis hikmahnya jadi ingin diceritakan. Foto yang dipasang itu masjid Alun-alun, karena nggak ada foto lagi tapi biar fotonya nuansa hari kemenangan. 

Bonus pict: diajakin foto sama Bapak Rektor, Pak Kadarsyah. Selamat Hari Raya Idul Adha 1438 H!



Komentar