Hampir lengkap sudah nyobain perawatan gigi dari nambel(masih ada 4 gigi lagi yg belum ditambel), cabut gigi, scalling, perawatan saluran akar(lagi jalan), dan gigi jacket(waktu smp dulu sih). Wow.
Beberapa kali sudah bolak-balik ke rumah sakit gigi dan mulut kampus sebelah, karena lebih memilih diobati koas. Tanpa maksud nggak mengehargai profesi dokter gigi, hanya saja biayanya lebih cocok di kantong mahasiswa(blm punya penghasilan utk sekarang). Perawatannya pun tetap dilakukan profesional. Dan kadang malah lebih nyaman secara psikis, mungkin karena dokternya seumuran kali ya. Senang, punya relasi dan interaksi sama mahasiswa kedokteran. Pastinya, berbeda aktifitas, pemikirannya, budaya.
Ada pengamatan yang seru ketika bersender di kursi pasien, buka mulut lebar, mulut dikorek-korek atau ketika nunggu koas bolak-balik minta acceptance dosen. Ada pengamatan seru disamping menjalani perawatan tok sebagai pasien.
Ngamatin tentang budaya mahasiswa koas fkg, langkah-langkah dokter gigi kerja dari perawatan satu dan lainnya, alat-alat perawatan gigi, jadi sedikit familiar dengan nama-nama istilah medis sekarang, dll.
Yang menarik untuk diceritain tentang
1. How cool you are, Dentists!
Komentar pertama pas kesana "dokternya kok cantik-cantik ya", karena kebanyakan mahasiswi. Setidaknya rapih dalam berpenampilan. Dandan tapi sederhana. Jadi enak diliat. Mungkin bisa jadi karena penampilannya sudah rapi membawa kebiasaan, kerjanya jadi rapih. Nggak dipungkiri jadi dokter gigi, tangannya harus telaten dan cekatan. Kayak nambel gigi setelah dibor nggak boleh kena air liur biar tambelannya nggak bocor, tangan-tangan yang cekatan ngambil section(alat penyedot air liur), sumpel kapas sana-sini, racik bahan tambalan. Apalagi kan belum punya asisten. Dan butuh banget ketelatenan, kerjanya harus rapih kan nambel gigi orang, pelan-pelan bersihin karang, disemprot air, elap lagi, begitu seterusnya. Sama aja kayak seniman maupun desainer harus telaten. Secara personal dituntut ramah-tamah karena kondisi psikologi pasien diperhatikan dan diberi kenyamanan, nggak boleh panikan(sekalipun panik nggak menunjukan ke pasiennya) mungkin ada etika tertentu kali ya dan sabar sih karena tipe-tipe pasien ada yang bisa diajak kerjasama, ada yang rewel. Selama ini, 'yaudah' sama profesi dokter. Tapi setelah dirawat gini, jadi 'uw' mengagumi profesi dokter banget karena merasa thankful, berjasa banget doi-doi mengobati diri ini.
Komentar pertama pas kesana "dokternya kok cantik-cantik ya", karena kebanyakan mahasiswi. Setidaknya rapih dalam berpenampilan. Dandan tapi sederhana. Jadi enak diliat. Mungkin bisa jadi karena penampilannya sudah rapi membawa kebiasaan, kerjanya jadi rapih. Nggak dipungkiri jadi dokter gigi, tangannya harus telaten dan cekatan. Kayak nambel gigi setelah dibor nggak boleh kena air liur biar tambelannya nggak bocor, tangan-tangan yang cekatan ngambil section(alat penyedot air liur), sumpel kapas sana-sini, racik bahan tambalan. Apalagi kan belum punya asisten. Dan butuh banget ketelatenan, kerjanya harus rapih kan nambel gigi orang, pelan-pelan bersihin karang, disemprot air, elap lagi, begitu seterusnya. Sama aja kayak seniman maupun desainer harus telaten. Secara personal dituntut ramah-tamah karena kondisi psikologi pasien diperhatikan dan diberi kenyamanan, nggak boleh panikan(sekalipun panik nggak menunjukan ke pasiennya) mungkin ada etika tertentu kali ya dan sabar sih karena tipe-tipe pasien ada yang bisa diajak kerjasama, ada yang rewel. Selama ini, 'yaudah' sama profesi dokter. Tapi setelah dirawat gini, jadi 'uw' mengagumi profesi dokter banget karena merasa thankful, berjasa banget doi-doi mengobati diri ini.
2. Observing as a product designer
Kalau koasnya lagi pergi minta acceptance dosennya, kadang suka merhatiin alat-alat perawatan gigi udah ergonomis apa belum, udah semantik apa belum, some thing that you can learn hey product designer especially for medical product designer. Kocak juga sih pas tau katanya sikat gigi bulunya lebih bagus lurus tapi yang di industri ada yang bergelombang(I don't know the research yet btw).
3. Awareness in Dental and Oral Health
Sedikit berpengetahuan tentang dunia gigi. Dan setelah tau jadi sadar, kenapa gigi berlubang nggak boleh didiemin lama-lama, kenapa penting membersihkan karang gigi, kenapa ke dokter gigi harus bolak-balik kayak nambel harus ditambel sementara dulu baru ditambel tetap(kan ada pasien yg sukanya instan, padahal tiap tahap perawatan ada prosedurnya, dan kalau dilewatkan bisa jadi fatal). Kalau sudah tau resiko-resikonya serem banget sih, kalau gigi berlubang kumannya masuk lalu tempus ke pulpa lalu saraf giginya mati lalu bisa tembus ke pembululuh darah, bisa beresiko kematian karena kuman bisa nyumbat saluran pernafasan dan menjalar kemana-mana, hanya karena dari mulut yang jorok. Nah bisa dicegah dengan segera tambal kalau sudah bolong biar nggak resiko psa atau cabut. Tapi lebih baik lagi mencegah biar nggak berlubang dengan scalling dan rajin sikat gigi. Kadang kebanyakan orang lebih milih kuratif daripada preventif sih, dulu ku juga begitu, males sikat gigi malem, kalau lubang dikit didiemin sampe gede sampe giginya mati, dicabut. Dan rasanya dicabut tuh sumpah sakit banget, nggak enak lah ngurusin gigi yang banyak masalahnya gini. Makan juga nggak enak, ngunyah kan proses pertama makanan diolah dalam tubuh, jadi kalau giginya bermasalah ngaruh banget ke pencernaan.
Sekian pelajaran yang diambil dari perawatan gigi, ini sesuai pengamatan sebagai pasien saja, bisa jadi ada salah kata, salah tangkep, salah info. Tapi serius profesi dokter tuh keren banget!
Dipersembahkan untuk dokter-dokterku: tante iin, tante fia, amel-hanum-nindy(teman-teman calon fkg-ku), dan kak iqbal-kak sara-kak faisal(kakak-kakak koas yang baik hatinya.

Komentar
Posting Komentar