Perang Khandaq terjadi dimana jumlah tim musuh lebih banyak(sekitar 10 ribu pasukan) daripada jumlah tim muslimin(sekitar 3 ribu pasukan). Masalah terberat yang dihadapi tim muslimin bukan masalah fisik melainkan masalah mental, rasa ketidakpercayaan diri para sahabat akan kalah dalam perang. Makanya diadakan siasat membuat parit sebagai benteng. Dari subuh sampai isya para sahabat menggali parit selama seminggu sebelum tim musuh datang. Dalam keadaan berpuasa, berbuka hanya dengan kurma yang dibagi dua orang, dirundung keraguan dan ketakutan.
Pada saat puncak letih-letihnya, di hari terakhir menggali parit, "Yaa Bilal, istirahatkanlah kami dengan solat" kata Rosululloh dengan suara kencang agar para sahabat mendengar. Kalimat sederhana itu langsung menyadarkan para Sahabat, mereka lupa, dari kemarin terlalu mengandalkan logika
manusia, tetapi belum melibatkan logika Tuhannya manusia.
Konsep waktu isitirahat dari suatu urusan ke urusan yang lain(kerja) versinya Rosululloh bukan bersantai dengan ngopi, makan, nonton. Rosululloh punya cara yang berjuta-juta kali lebih keren yaitu solat. Dari solat kita bukan hanya mengistirahatkan fisik melainkan juga mental. Dalam solat kita bisa mengadu apapun segala masalah, mempasrahkan hasil ikhtiar, menstabilkan diri.
Akhirnya Bilal, sang muazzin dengan suara merdu melafadzan
"Hayya alal Falah!(Marilah menuju kemenangan)"
Serentak semua sahabat berdiri menyambut kemenangan. Dan hilanglah keletihan karena Beristirahat dengan melibatkan Allah.
Bisakah kita menjadikan solat sebagai istirahat kita?

Komentar
Posting Komentar