Inget nggak sih, si Nadia sosok anak kecil yang nggak pernah memikirkan kegagalan? Makanya dengan mudahnya dia bisa masuk sekolah yang terbilang favorit di Kota sampe kampus yang nggak pernah dia bayangkan bisa menempuh pendidikan disana. Dulu si Nadia ini, punya cita-cita jadi Arsitek tapi ganti jadi Desainer, yang jelas ingin berprofesi yang kerjanya gambar. Eh ternyata dikabulin sama Allah, dapet kampus bagus dan keilmuam yang diimpikan. Ah, indahnya berkhusnudzon sama Allah dan diri sendiri.
Pas si Nadia agak gede, udah sibuk dengan tugas-tugas kuliah yang nggak lazim didapatkan. Jadi kreatif tuh sulit. Idenya nggak muncul, yauwes, bye. Jadi anak desain nggak segampang itu. Mana nggak rapih, tugas Nirmana beletetan. Ditambah jadi anak rantau sejauh 200 km dari Ibu, biasa kolokan harus hidup sendiri, tekanannya lumayan. Sejak saat itu, si Nadia hidupnya realistik. Ya memang harus realistis sih tapi mimpi-mimpi yang dulu direncanakan jadi buyar, serba "Ah sulit atau Ah gabisa"
Setelah naik ke penjurusan di tingkat 2 pun sama, ketemu teman-teman yang jago jadi jiper. Merasa tidak cocok di desain produk, bikin apa-apa saja jarang rapih. Kerjanya nangis tiap pulang kuliah. Beneran nangis kadang mikir di angkot atau nggak bengong di kamar kosan. Tugas kardus ngerjain ulang biar rapih tapi sama saja ujung-ujungnya, bikin botol dari resin pun udah tiga perempat jadi terus pecah karena kecerobahan diri sendiri. Mengutuk lalu pasrah kumpulkan apa adanya, menurunkan standarisasi. Bodo amat yang penting dapat nilai, semangat berkarya kurang. Sensitif dibilang jelek(karena memang merasa jelek) biasa cupu nggak mau nerima kritik. Padahal kalo ngomongin jelek, banyak yang nggak lebih baik atau karyanya nggak sejelek itu cuma permasalahan percaya diri. Sejak saat itu dunia Nadia berubah jadi negatif, merendahkan diri sendiri paling hobi terus nangis nggak bergerak buat berubah. Untung dapet teman-teman yang mendukung, bikin bisnis bareng, jadi semangat lagi. Bareng lomba desain menang satu kali jadi merasa produktif. Kerja profesi di tempat yang cocok, akhirnya ada kemampuan tak terlihat yang tidak pernah digali. Lumayan terapi dari 2 tahun lalu meski masih jauh dari rasa bersyukur karena banyak mengeluh tetap sering kali masih membatasi diri dari kemampuan yang tidak Nadia banget. Berdalih nggak jago software, tangan gak prigle atau jadi the real industrial designer, bahkan kepikiran buat nggak jadi desainer.
Ah, padahal semua itu hanyalah pikiran negatif Nadia yang sangat mengganggunya empat tahun belakangan ini. Dia lupa caranya bermimpi. Padahal karya dia nggak sejelek itu tapi karena kurang percaya diri, dia tutupi buat dipublikasikan. Banyak di luar sana, yang karyanya nggak sebagus itu tapi mereka yakin yang mereka hasilkan bagus jadi orang percaya itu bagus. Padahal bukan 'nggak bisa' tapi 'belum bisa lalu saya akan belajar'. Padahal gambar bisa saja bagus dengan berlatih secara istiqomah begitupun kerapihan.
Ayo Nad. Bermimpi lagi yang banyak. Menulis yang bermanfaat, jadi kreator konten, ambil kuas dan pensil menggambar lagi, ikut lomba ambil proyek lalu buat produk jadi. Jadi desainer yang bermanfaat bantu orang banyak. Bikin sekolah. Bikin lapangan pekerjaan.
I challenge Nadia to be positive thinking
Komentar
Posting Komentar