Tulisan-Tulisan Viral

Belakangan ini, jadi agak urung memposting tulisan atau menekan tombol like buat postingan orang lain di media LINE. Setuju sama si Ayub, LINE sejak ada fitur timeline saik juga tapi lama-lama anjir juga. Maksudnya dengan ditambah akses share, tulisan awam bisa jadi viral tanpa masuk divisi editorial dulu. 

Ya, saya malas dilihat terlalu berkomentar, saya sedang ingin jadi silent reader saja. Setelah beberapa kali saya berspeak up soal beberapa isu-isu negara, terutama yang berbau debat agama. Meski, gatel rasanya ingin berkomentar balik kalau ada tulisan viral nyeleneh bagi saya yang lewat di timeline. Meski pula, katanya sampaikan kebenaran. Tapi saya merasa lebih baik diam untuk sekarang. Toh, semakin banyak yang berkomentar malah memperkeruh suasana seperti yang Nanda bilang. 

Sebenernya saya nya juga sih yang rebel, udah tau bakal emosi kalau baca tulisan-tulisan viral tersebut(yang intoleran buat saya) plus baca kolom komentar ribuan orang dengan karakter dan tingkat intelektual berbeda-beda, tapi anehnya saya masih aja baca. Terutama yang bikin kesel, opini yang diangkat isunya tentang itu itu itu lagi. Haduh. Ya udah tau lah ya, isu nya apalagi kalau nggak jauh-jauh sama "penistaan agama" dari kasus Ahok ampe Bom Kampung Melayu kagak beres-beres. Saya jadi nggak kesel lagi sama aktor-aktornya, misal saya sudah maafkan Ahok dengan catatan jika dia tidak sengaja, bukan ada konspirasi tertentu. Sekali lagi saya sudah maafkan Bapak Ahok, saya yakin dia sedang keliru kemarin. Saya salut bapak itu mau tanggung jawab atas kesalahannya malah. Masalah kelar seharusnya, tapi malah kesel sama cah-cah netizen iki loh memperkeruh suasana lagi dengan opini atau komentarnya. Wong, Pak Ahok udah membuat keputusan kok yang repot malah situ, terus nambah lagi opini cocoklogi Bom Kampung Melayu dengan keterorisan Islam. Ini hanya contoh kasus. Jangan salah fokus sama opini saya yanh di atas soal bapak Ahok atau malah sakit hati saya bilang rempong, kalau nggak sesuai pemahaman pribadi, mangga kita diskusi face to face.

Lanjut lagi, Beropini bagus tentunya dengan data valid, argumen yang benar, cara berbahasa yang baik. Namun nyatanya, nggak semua netizen berkomentar dengan syarat-syarat diatas. Jadi tong kosong bunyi nyaring, maaf. Saya mungkin mau saja menerima opini yang bertolak belakang dengan yang saya pahami asal sudut pandang berpikirmya jelas. Agar saya memahami kalau yang benar bukan cuma opini saya, agar saya menyadari ada sudut pandang lain yang bisa diterima akal dan hati. Tentunya dengan tujuan memposting yang ahsan(baik) pula, tulisanmu itu harimaumu kan kalau tujuannya mencari popularitas padahal konten yang disajikan untuk adu domba lagi (saya berhudznuzon semoga tidak), toh buat apa? Makanya, kalau posting di LINE, saya prefer untuk setting private. Biar teman-teman akun LINE saya saja yang bisa baca, yang sudah pasti beberapa dari mereka mengenal baik saya. Kebanyakan, orang-orang yang menanggapi tulisan viral nggak tau kepribadian sang penulis seperti apa. Mungkin, keliatannya si penulis nyolot padahal mungkin memang cara dia nulis begitu. Setuju lagi sama posting Kak Ardhyaska Amy di Instagram Storynya, jadi buat umat Islam sudah dijelaskan dalam Al-Qur'an tata cara berdiskusi(saya lupa surah dan ayat nya). Intinya, diskusi via tulisan itu sulit, lebih baik bertemu atau minimal telepon. Karena persepsi intonasi tulisan berbeda-beda. Dan jangan sampai larut jadi debat kusir. 

Akhir kata, saya nya saja yang kurang mencari kesibukan berfaedah. Biar jadi penyepet diri sendiri. Dipikir-pikir baca-baca timeline yang isinya naon(baca: apaandah) bikin kesel juga ya atau liat instagram story orang buang-buang waktu juga yang bisa jadi berujung hasad sama orang lain. Naudzubillah, Mending tadarus aja coy. Yaudah gitu aja. Selamat menjalankan ibadah di hari kedua ya teman-teman. 

Komentar