Satu hal yang saya pelajari dr ayah, bahwa beliau tidak
pernah memutuskan tali hubungan dengan orang lain. Sekalipun itu teman
sekolahnya semasa Taman Kanak mungkin. Yang menyebabkan mengapa sampai detik ini masih
banyak yang mau menolongnya.
Saya termasuk salah satu anak yang menurunkan banyak sifat dari ayah. Saya lebih ramah dan romantis dari adik-adik. Tapi tak lantas rasa keinginan sendirian(introverted) lebih resesif dibanding rasa keinginan bersama-sama alias being extrovert. Makanya, di kamar bersenandung atau berkontemplasi adalah zona yang teramat nyaman. Tapi bersosialisasi pun tetap menyenangkan dengan batas wajar versi diri saya. Saya bukan sepenutup itu kok, saya masih suka cerita menye tentang kehidupan, cinta, bahkan dunia pada teman sejawat. Saya sudah terapi muka datar lalu lebih baik sekarang berkat teman-teman disini.
Tapi belakangan ini, rasa kekacauan pada diri sendiri membuat saya lebih ingin banyak diam dan berpikir sendiri. Lalu menjauhi teman-teman sekitar. Mereka tidak apa-apa hanya saja saya yang apa-apa. Kemudian ketika saya kembali, ternyata kami sudah berjarak. Sangat sulit memperbaiki hubungan yang sudah terlanjur canggung. Saya baru menyadari bahwa I'm bad on maintaning relation .
Tidak hanya sekali ini, tapi setiap pindah dari suatu tempat, saya merasa hubungan emosional akan tempat dahulu lambat laun berkurang. Pindah status menjadi siswi ke mahasiswi pun membuat saya merasa putus hubungan dengan teman sekolah, intinya saya jarang mengontak mereka. Silahkan tanya, berapa kali saya hang-out dengan teman-teman sekolah yang kuliah di Kota ini? Jenaka, mungkin sekali sampai tiga kali. Saya tidak memiliki permasalahan batin, rasa rindu atau semacamnya lah, ya rasa itu ada kali dua kali, tapi jarang dieksekusikan sampai saya benar-benar bertemu mereka. Paling bantr, kalau galau, tengah malam iseng lihat galeri sekolah file dokumentasi pribadi. Habis, saya tidak merasa berpisah dengan mereka. Kalau bertemu di reuni, seperti tidak berpisah bertahun-tahun.
Tapi
setidak kangen-kangennya, harusnya saya berusaha menjaga hubungan dengan mengkontak, nothing to lose, yes? Mungkin biar nggak kaget kalau tau-tau si siapa sudah mau nikah atau sudah punya
anak. Hahaha bercanda. Yasudah, maafkan ya teman-teman, in my inner space of heart, living our memory togethaaa, exactly. :)
Komentar
Posting Komentar