Mengeluh dalam Sirat

3 dalam 365 hari.
Saya ingin menuliskan apa yang sudah terlewati tahun sebelum tiga hari lalu.Suatu keputusan besar dengan ungkapan tersirat.

Sengaja atau tidak sengaja saya terlanjur memilih jalan yang berkelok. Bukan tempat biasa yang saya lewati.
Entah apa yang dicari, namun saya makin tersesat. Padahal melewati jalan biasanya akan damai saja sepertinya.
Akan tetapi saya dan keegoisan saya ingin mengelak hal yang pasti.Memilih yang penting namun tidak mendesak. Padahal tahu, prioritas saja punya muamalah.


Telah menjadi orang yang penentang semenjak kemarin menyadarkan bahwa selama ini terlalu banyak tidur bertahun-tahun dalam kasur nyaman.

Ketika harus berpapasan dengan kekacauan, tidak punyaa amunisi untuk melawan. Mungkin terbiasa untuk hidup aman.
Tapi Tuhan selalu mempersilahkan duduk aman, sebab ku tahu Tuhan sayang.
Terimakasih kalau begitu Tuhan, atas kekacauan. Setidaknya pernah merasakan sedikit ugal.

Esok tidak ingin lagi kalau bisa. Tapi kalau ugal kembali, semoga sudah siap amunisi. Lebih tepatnya, sedia amunisi ketika ugal atau tak ugal.

Komentar