
Dua hari tepat sudah kepulangan saya dari Kelingan. Bandung dan seisinya yang saya rindukan kemarin, sekarang berbalik menjadi rindu kelingan dan seisinya.
Saya paling rindu makanan!
Dimana lagi saya bisa menicipi enthoe goreng, cemilan kemplang, jamu beras kencur dan kunir asam, pisang yang langsung dipetik dari pohon, makan sayur-mayur semacam lompong yang langka ditemui. Dimasak dari pawon(dapur) sendiri yang terjamin kualitasnya. Enak nan sehat.
Kembali menjadi Cah Bandung membuat saya belajar menahan diri untuk tidak jajan sembarangan, ini sulit, bahkan baru saja sampai bandung saya sudah melanggar. Anak kos yang kesulitan mencari makan. Akhirnya beli seadanya saja, mencicipi lagi perisa buatan, minyak berlebihan, proses masak si pedagang pun tidak diketahui jelas.
Hidup sehat itu susah, makanya sehat itu mahal.
Saya sudah tahu kata-kata ini dari dulu, tapi kesadaran itu baru muncul setelah di Kelingan.
Saya sudah tahu kata-kata ini dari dulu, tapi kesadaran itu baru muncul setelah di Kelingan.
Ah desa sudah mengajarkan banyak hal si anak kota ini yang tidak punya bahasa daerah. Tidak kaya seperti mereka.
Komentar
Posting Komentar