Periode generasi sekarang entah mengapa lebih gengsi untuk berucap antara sesama teman khususnya secara personal. Padahal teknologi komunikasi semakin canggih.
Teringat waktu masih sekolah menengah, rela untuk beli pulsa berlebih lalu mengirim pesan ke teman satu per satu pada malam Takbiran. Sebaliknya, dikirimi banyak pesan dari teman-teman. Ada yang berpantun, menyusun simbol jadi sebuah gambar, apapun ide-ide kreatif lainnya. Walalupun pesan-pesan itu template. Dan terlihat membosankan jika dilalukan setiap tahun. Tapi sekarang setelah tidak ada pesan-pesan ucapan personal itu serasa ada yang hilang. ‘Budaya sapa-menyapa’ antara sesama teman.
Teringat waktu masih sekolah menengah, rela untuk beli pulsa berlebih lalu mengirim pesan ke teman satu per satu pada malam Takbiran. Sebaliknya, dikirimi banyak pesan dari teman-teman. Ada yang berpantun, menyusun simbol jadi sebuah gambar, apapun ide-ide kreatif lainnya. Walalupun pesan-pesan itu template. Dan terlihat membosankan jika dilalukan setiap tahun. Tapi sekarang setelah tidak ada pesan-pesan ucapan personal itu serasa ada yang hilang. ‘Budaya sapa-menyapa’ antara sesama teman.
Semalam, saya mengirim pesan Idul Fitri ke cah-cah Kelingan, tempat saya bekerja praktek di Temanggung. Mereka langsung menelpon balik, mengabari posisinya mereka sekarang dimana, lalu teleponnnya dioper-oper karena para cah-cah ini sedang kumpul bersama. Saya senang semalam. Karena sekedar ucapan “Hai, Selamat Lebaran mbak!” dengan nada antusias mereka, menurut saya itu adalah sapaan berarti. Seperti menjadi keluarga kedua untuk mereka. Terlebih memaknainya sebagai salam untuk saudara seumat, yang juga merayakan hari Kemenangan.
Sedikit cerita, lebaran tahun ini lebaran tersepi bagi saya, seperti berlalu begitu saja. Jika permasalahannya sebab Budaya komunikasi antar teman atau bahkan antar keluarga, semoga bisa diperbaiki. Cause Indonesian people is polite people :)
Selamat Idul Fitri
Minal Aidin wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Komentar
Posting Komentar