Jangan salahkan, jika aku bicara hal ini. Sebab selain keligasahan akan aktualisasi diri ataupun pencapaian impian, ada lagi satu hal krusial yang tak kan dipungkiri akan hadir biar manusia menginjak kepala dua mengelak.
"Tentang rasa dan segala teman-temannya"
Lusa, aku dan seorang teman sengaja berada di ruang tamu tempat tinggal kami. Berbincang, sebelum tengah malam, kala hutjan. Udaranya cukup lembab, ditemani kucing kecil yang mengaung minta diperhatikan.
"Kita sudah besar, kita berbeda dengan dulu di bangku sekolah. Memendam hanya menganggumi sosok dari jauh jadi tak apa, namun sekarang kita lelah di fase itu. Ketika ada sosok yang bisa membalas, kenapa tidak, kenapa kita harus terbelunggu kepada penantian sosok lain yang bahkan tak sadar kapan kita memperhatikannya. "
Kemudian aku mengelak
"Tapi rasa menyukai sesungguhnya adalah kita menjauhi untuk menjaga bukan mendekat untuk menyapa, bukan?"
Tentu saja itulah yang disukai agama dan fitrah seorang muslim wanita. Namun benar juga katanya, aku baru sadar. Sulit juga untuk berganti dari yang lalu, mungkin tak ada sosok yang seperti itu disini. Yang meredamkan ego, yang membuat pandangan tertunduk, yang membuat tersenyum karena ibadahnya, yang bersikap sewajarnya hingga perempuan tahu diri. Dan memang tidak menemukan siapa-siapa. Yang ada hanya orang-orang yang singgah, yang belum tentu menetap, yang seperti ujian semata, yang memperhatikan tanpa ada tanggung jawab. Kemudian masing-masing dari kita terlena akan dosa sebab lepasnya batasan tipis demi tipis.
"Ya tentu saja, sebaik baiknya akhwat adalah yang bisa menjaga batasan. Tidak bisa dipungkiri berbuat dosa menyenangkan, karena memang ada kesempatannya sekarang. Tapi bisa jadi ini memang cara kita menyukai sosok, bukan lagi karena pengangguman dari jauh seperti kemarin, tapi karena interaksi dekat yang menciptakan."
Lalu temanku melanjutkan lagi,
"Bisa jadi, kita menyukai seorang yang membuat nyaman akan perhatian dan perlindungannya. Jika tak suka, tak kan mungkin kita bisa tahan berbicara lama-lama pada seseorang, bukan?" Itu saja.
Sosok tidak perlu dicari, namun manusia selalu berusaha mencari. Sebab masing-masing dari kita gelisah akan peneman hidup. Dan menguji sosok yang memperhatikan adalah bentuk kegelisahan karena terlalu takut tak bersama yang diangankan. Atau mungkin karena ada rasa penasaran sekaligus kepercayaan. Jalan manusia tak ada yang tau.
Terserahkan kepada Tuhan dan segala rencana-Nya.
Berbincang bersama Wafda Liulin Nuha.
Bandung, 18 November 2015
"Tentang rasa dan segala teman-temannya"
Lusa, aku dan seorang teman sengaja berada di ruang tamu tempat tinggal kami. Berbincang, sebelum tengah malam, kala hutjan. Udaranya cukup lembab, ditemani kucing kecil yang mengaung minta diperhatikan.
"Kita sudah besar, kita berbeda dengan dulu di bangku sekolah. Memendam hanya menganggumi sosok dari jauh jadi tak apa, namun sekarang kita lelah di fase itu. Ketika ada sosok yang bisa membalas, kenapa tidak, kenapa kita harus terbelunggu kepada penantian sosok lain yang bahkan tak sadar kapan kita memperhatikannya. "
Kemudian aku mengelak
"Tapi rasa menyukai sesungguhnya adalah kita menjauhi untuk menjaga bukan mendekat untuk menyapa, bukan?"
Tentu saja itulah yang disukai agama dan fitrah seorang muslim wanita. Namun benar juga katanya, aku baru sadar. Sulit juga untuk berganti dari yang lalu, mungkin tak ada sosok yang seperti itu disini. Yang meredamkan ego, yang membuat pandangan tertunduk, yang membuat tersenyum karena ibadahnya, yang bersikap sewajarnya hingga perempuan tahu diri. Dan memang tidak menemukan siapa-siapa. Yang ada hanya orang-orang yang singgah, yang belum tentu menetap, yang seperti ujian semata, yang memperhatikan tanpa ada tanggung jawab. Kemudian masing-masing dari kita terlena akan dosa sebab lepasnya batasan tipis demi tipis.
"Ya tentu saja, sebaik baiknya akhwat adalah yang bisa menjaga batasan. Tidak bisa dipungkiri berbuat dosa menyenangkan, karena memang ada kesempatannya sekarang. Tapi bisa jadi ini memang cara kita menyukai sosok, bukan lagi karena pengangguman dari jauh seperti kemarin, tapi karena interaksi dekat yang menciptakan."
Lalu temanku melanjutkan lagi,
"Bisa jadi, kita menyukai seorang yang membuat nyaman akan perhatian dan perlindungannya. Jika tak suka, tak kan mungkin kita bisa tahan berbicara lama-lama pada seseorang, bukan?" Itu saja.
Sosok tidak perlu dicari, namun manusia selalu berusaha mencari. Sebab masing-masing dari kita gelisah akan peneman hidup. Dan menguji sosok yang memperhatikan adalah bentuk kegelisahan karena terlalu takut tak bersama yang diangankan. Atau mungkin karena ada rasa penasaran sekaligus kepercayaan. Jalan manusia tak ada yang tau.
Terserahkan kepada Tuhan dan segala rencana-Nya.
Berbincang bersama Wafda Liulin Nuha.
Bandung, 18 November 2015
Komentar
Posting Komentar