Bandung dan Sebuah Rasa

"Dan Bandung bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi." -Pidi Baiq

Aku memulai di Kota ini.

Memulai belajar, belajar apapun, apapun yang tidak pernah kulakukan sebelumnya.
Jujur lebih hafal rute jalan Bandung dibanding disini. Aku bahkan suka udaranya, damai untuk dihirup, membuat orang-orang di Kota tersebut tidak sengit satu sama lain. Kota yang mengajarkan untuk banyak tersenyum dan berbahasa lembut. Karena Kota-ku begitu keras watak manusianya.
Suatu kehormatan berpijak di Bumi Ganesha, menimba ilmu yang menjadi cita-cita sedari kecil. Kawan-kawan  yang aku impikan. Belum pernah melepaskan tawa secara nyablak.  Mereka yang hebat, unik lagi rendah hati. Dengan segala keheterogenannya, aku belajar membuka pikiran dan hati.
Kota yang membuat aku menjadi diri sendiri. Karena dahulu, terlalu sering menjadi orang lain.
Lebih banyak berkata dengan orang-orang rumah, rindu yang mengufuk membuat bahasa manis  yang langka terucap. Karena antara jarak pasti terselip doa yang kuat. Aku yakin.
Kota yang mengajarkan tentang kemandirian seutuhnya, biar hanya berjarak 200 km, bagiku si anak manja ini, boleh dikatakan sebuah perantauan? sebab adaptasi tak mudah. Karena terlalu lama bergantung jadi pahit ketika hidup sendiri.
Yang mempertemukan aku dengan kamu, kamu dan kamu, ya, kalian.
Yang Membuat aku tersenyum bila mengingat masa lalu. Mungkin juga perlahan yang membuat lupa kepada orang itu sejenak. Dan ketika pulang, kembali dengan sebuah harap cemas akan hilir mudik rasa, ketidakpastian yang menyebalkan namun indah.
Sebuah kota pertemuan yang menorehkan cerita.
Terlalu menyenangkan disini, bukan tak ingin pulang, bukan melupakan Kota-ku, tapi aku terlalu asik belajar, ibu, ayah, adik dan kawan...

Terimakasih atas kesempatannya, Bandung dan seisinya.


Pagi hari, di Bekasi.

Komentar