Ada yang baru aku sadari.
"Karena.... parameter sebuah keberkahan dalam rumah adalah semakin saling mengingatkan dalam hal Agama. "
Manusia itu tidak pernah bisa ya lari dari track rancangan Allah. Subhallah.
Berbuat dosa, hidupnya merasa kurang aman, sial terus mungkin. Kalau dipikir ujungnya di pertanyaan "Berapa sering kamu inget agamamu?" Lagi kan?
Bukan sedang pencintraan, atau sedang sok, tapi aku betul-betul sadar. Apa yang manusia sering lupa. Bahwa Allah ada muara akhir untuk manusia mengadu.
Terkadang manusia suka jauh mikir, Mengapa dia begini mengapa dia begitu. Mengapa hidupnya begini mengapa hidupnya begitu. Apa yang salah pada dirinya. Sehingga manusia bertanya-tanya.
Perasaan, gak pernah buat macem-macem
Perasaan, selalu rajin dan berusaha
Perasaan, Perasaan, Perasaan.........
Jawabannya pasti balik lagi, "Berapa sering kamu inget agamamu?"
Ya, lihat dulu aja yang dekat, Gak usah analisis terlalu dalam.
Sama, seperti rumah.
Kondisi tetap saling cinta dan menghargai sesama anggota keluarga karena adanya hal Agama yang selalu mengelilingi sehingga susah untuk runtuh. Bukan hal yang bohong perintah mencintai sesuatu karena Allah. Nyatanya benar-benar kokoh, kalau alasan mencintai karena Rabb.
Kecintaan terhadap Ibu, Ayah, Anak, Istri, Suami, Kakak, Adik adalah saling keterjagaan dalam sama-sama pergi menuju Tuhan.
Keharmonisan yang buruk, komunikasi jelek, dingin, apatis, inginnya dilakukan masing-masing. Berujung lagi, pada.....
"Berapa sering kamu ingat agamamu?"
Atau bisa diganti dengan
"Berapa sering saling mengingatkan dalam Agama?"
Sakinah, Mawaddah, Wa Rohmah
Seperti, Yang orang-orang bilang.....
Rindu.
Jadi rindu.
Rumah yang hangat.
Bersama Ayah, Ibu, Tiga Adiku,
dan solat berjama'ah........
Untuk Rumah
Bandung, 1 Februari 2015
Komentar
Posting Komentar